Pages

Selasa, 29 Mei 2012

Mempererat Persatuan Melalui Wayang


Mempererat Persatuan Melalui Wayang
Mujahiddin Al Faruqul Adzim, 1006699442

"Wayang adalah wahana untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia menjadi lebih bermutu," (Sultan Hamengku Buwono X)
Indonesia adalah sebuah bangsa dengan keberagaman budaya serta masyarakat yang majemuk dengan masalah yang begitu banyak dan kompleks. Keadaan geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau menyebabkan tersebarnya arus informasi dan interaksi budaya menjadi sedikit terhambat, sehingga masyarakat budayanya menjadi lebih eksklusif. Keberagaman dan kemajemukan di Indonesia kadang kala menjadi penyebab terjadinya konflik yang dapat berakibat disintegrasi bangsa. Kadang kala kita lebih sensitif melihat perbedaan yang ada namun mengesampingkan persamaan yang ada, sikap etnosentrisme, primordialisme, serta pemahaman etnik slur yang terus dipelihara seolah-olah menjadi bom waktu untuk terjadinya konflik.
Namun, bukan tak mungkin dari keberagaman dan kemajemukan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia bisa menciptakan integrasi dan persatuan bangsa. Salah satu wujud kebudayaan yang dapat memperat persatuan bangsa adalah kesenian wayang. Wayang adalah salah satu wujud dari tujuh kebudayaan universal unsur kebudayaan, yaitu kesenian. Pada tanggal 7 November 2003 wayang telah ditetapkan UNESCO sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Bukti bahwa wayang adalah sebuah kesenian teater tradisonal tertua di Indonesia adalah penyebutan dan penjelasan mengenai wayang pada prasasti Balitung pada abad keempat. Ini adalah bukti otentik yang menerangkan bahwa wayang adalah kesenian budaya asli dari Indonesia.
Wayang adalah seni pertunjukan teater dengan menggunakan alat atau benda yang menyerupai boneka, dimainkan oleh seorang dalang, menggunakan alat dan perangkat yang mendukung kesenian ini, diantaranya adalah musik, sinden, serta alat pendukung lainnya. Pada perekmbangannya, wayang tak hanya berbentuk seperti boneka yang dimainkan oleh seorang dalang, namun ada pula wayang yang diperankan langsung oleh manusia yang biasa disebut dengan Wayang Wong.
Dengan masyarakat Indonesia yang beragam, Indonesia pun memiliki wayang yang beragam jenisnya. Ada Wayang Purwa atau Wayang Kulit yang sangat masyhur di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali; Wayang Golek yang masyhur di Jawa Barat; Wayang Menak yang terdapat di daerah Kudus; ada pula Wayang Suket yang terbuat dari suket—rumput; Wayang Wong yang diperankan oleh orang; Wayang Gung yang terdapat di Kalimantan, kemudian ada pula wayang yang khas dengan kenbudayaan Cina yaitu Wayang Potehi; Wayang beber yang berbentuk gulungan, wayang ini berkembang pada masa pra-Islam. Dari jenis-jenis wayang itu yang paling banyak memiliki varian adalah Wayang Purwa atau Wayang Kulit.
Wayang pun mampu bertahan berabad-abad lamanya, wayang telah melewati fase difusi, akulturasi, dan asimilasi dari berbagai zaman dan kebudayaan, mulai dari  zaman masuknya Hindu-Budha, Islam, kemudian kolonialisme, sampai melewati arus globalisme dan modernisme yang semakin menggerus kebudayaan. Memang tak bisa dinafikan bahwa kesenian wayang sangat dipengaruhi oleh budaya India, khususnya karena penyebaran agama Hindu-Budha. Wayang berkembang dari zaman ke zaman mengikuti budaya masyarakat yang ada. Wayang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dengan perkembangannya, dimulai saat masuknya Hindu-Budha di Indonesia wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata, proses difusi yang terjadi pada masa itu adalah penetration pacifique yaitu pemasukan secara damai. Cerita Ramayana dan Mahabharata yang menjadi dasar cerita pewayangan pun telah mengalami penyesuaian sesuai dengan budaya lokal. Proses akulturasi dan asimilasi pada pewayangan pun terjadi pada masyarakat Indonesia, unsur kebudayaan lokal, Hindu-Budha, Islam, serta kebudayaan barat bercampur dan mempengaruhinya.
Sebagai contoh, pada wayang purwa pada awalnya tidak berbentuk pipih, namun tiga dimensi. Setelah masuknya Islam, bentuk dari wayang itu menjadi pipih karena pengaruh Islam yang melarang bentuk patung, manusia, dan hewan, perawakan wayang tersebut juga tidak menyerupai manusia aslinya. Adaptasi cerita pewayangan pun mulai berkembang, walaupun dasar dari cerita itu berasal dari Ramayana dan Mahabharata, pada masa kerajaan menceritakan cerita babad kediri sampai dengan majapahit. Setelah masuknya Islam di Indonesia, ceritanya kembali digubah oleh para wali songo. Wayang Menak yang sumber ceritanya berasal dari Kitab Menak yang menceritakan mengenai Amir Hamzah, atau paman Nabi saw. Wayang ini sangat kental unsur keislamannya isi pokok cerita adalah permusuhan antara Wong Agung Jayeng Rana yang beragama Islam dengan Prabu Nursewan yang belum memeluk agama Islam. Ada pula Wayang Potehi yang khas Tiong Hoa, dalam perkembangannya wayang ini dapat menyesuaikan dengan kebudayaan Indonesia.
Fungsi wayang pada zaman dahulu pun tak hanya sekadar hiburan semata, ada unsur kemanusiaan, falsafah hidup, ketuhanan, dan nilai-nilai kemasyarakatan yang ingin disampaikan pada setiap pertunjukan wayang. Setiap daerah mempunyai kekhasannya dalam setiap pertunjukan wayang, karena pengaruh bahasa daerah yang digunakan serta pandangan hidup menyebabkan cerita pewayangan serta cara pertunjukannya  pun beragam. Pada awal masuknya Islam, fungsi wayang menjadi sarana dakwah bagi Wali Songo untuk menyebarkan Islam di Pulau Jawa.
Dahulu wayang dipentaskan di pasar, di tempat orang banyak berkumpul sehingga masyarakat tertarik melihatnya dan nilai-nilai yang disampaikan meresap dalam diri masyarakat. Kerukunan dan tenggang rasa dijunjung tinggi oleh masyarakat, karena sedikit banyak pula dipengaruhi oleh nilai-nilai yang disampaikan dalam wayang. Pementasan wayang pun dilakukan pada acara besar yang terjadi di masyarakat. Seorang dalang menjadi penting kedudukannya di masyarakat, karena menjadi perantara penyampaian nilai, norma, dan etika pada masyarakat.
Fungsi wayang di daerah urban, khususnya di kota-kota besar metropolitan semakin terpinggirkan. Pemudanya lebih menyukai cerita drama adaptasi luar negri ketimbang pementasan wayang. Kurangnya keinginan dan rasa cinta pada wayang membuat masyarakat urban menjadi bergeser falsafah hidup, norma, dan nilanya. Arus modernisasi yang bergandengan dengan westernisasi membuat kesenian tradisional khususnya wayang menjadi terpinggirkan. Padahal, melalui wayang yang beragam jenisnya, beragam ceritanya, beragam cara pementasannya, membuat kita sadar bahwasanya kita sebagai masyarakat yang multikultural mempunyai persamaan yang mendasar, yaitu sama-sama mempunyai dan menyukai kesenian wayang.
Pada akhirnya, wayang dapat menyatukan bangsa Indonesia melalui pesan-pesan yang disampaikan, memang jenis dari wayang itu beragam, namun pada hakikatnya tetap sama, sama-sama wayang. Perkembangan wayang sekarang ini harus mengikuti perkembangan dan kebutuhan masyarakat pada zaman ini, wayang konvensional harus tetap dipertahankan dan dilestarikan sebagai budaya bangsa. Namun, untuk alternatif menjawab kebutuhan itu mungkin perlu adanya wayang kontemporer yang penyampaiannya dikemas semenarik mungkin, sehingga masyarakat urban dan perkotaan khususnya generasi muda dapat merasakan manfaat dari wayang itu.
Seharusnya wayang dapat diberdayakan menjadi alat pemersatu bangsa, karena semua orang pada dasarnya menyukai cerita-cerita, dari alasan itulah wayang menjadi pionir untuk tetap menjaga integrasi bangsa dan keutuhan bangsa ini. Perlu adanya kesadaran pada setiap individu untuk selalu mengupayakan persatuan bangsa ini melalui perantara apapun itu.
Daftar Pustaka

Sumber Rujukan Buku:

Koentjaraningrat. (2002). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

Utorodewo, Felicia. N, dkk. (2010). Bahasa Indonesia, SebuahPengantar Penulisan Ilmiah. Jakarta: Badan Penerbit FKUI


Sumber Rujukan Internet:
Admin. “Perubahan  Fungsi Wayang”. 2011. Style Sheet.  http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/700/Warta/Perubahan_Fungsi_Wayang.html (Rabu, 2 November 2011)

Admin. “Wayang Sebagai Alat Pemersatu Bangsa”. 2011. Style Sheet. http://gudeg.net/id/news/news/2008/12/4215/Wayang-Sebagai-Alat-Pemersatu-Bangsa.html (Rabu, 2 November 2011)

Anne Ahira. “Pertunjukan Wayang”. 2010. Style Sheet. http://www.anneahira.com/pertunjukan-wayang.htm (Rabu, 2 November 2011)

Tjakra Kembang. “Sejarah Seni Pewayangan”. 2010. Style Sheet. http://wayang.wordpress.com/2010/03/06/sejarah-seni-pewayangan/ (Rabu, 2 November 2011)

Tjakra Kembang. “Silsilah Wayang Indonesia”. 2010. Style Sheet. http://wayang.wordpress.com/2010/03/06/silsilah-wayang-indonesia/ (Rabu, 2 November 2011)

Tjakra Kembang. “Wayang”. 2010. Style Sheet. http://wayang.wordpress.com/2010/03/06/wayang/ (Rabu, 2 November 2011)

Tjakra Kembang. “Sumber Cerita Wayang”. 2010. Style Sheet. http://wayang.wordpress.com/2006/10/25/sumber-cerita-wayang (Rabu, 2 November 2011)



0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 Gurat Kata and Powered by Blogger.